Nelayan Indramayu Selamat dari Maut Usai Kapal Ditabrak Tongkang
Paoman-terusberkarya - Perairan Indramayu menjadi lokasi tragedi pada Sabtu (28/2/2026) malam, ketika KM Almujib ditabrak kapal tongkang bernomor lambung 3009. Akibatnya, kapal hancur, Alfianto Agus Sulistyo (20) dan Carudin berhasil selamat.
Wahyuni (50), Ibu dari Alfianto, mengungkapkan perasaannya yang bercampur aduk antara duka dan syukur. Ia bersyukur anaknya selamat, namun sedih karena dua rekan Alfianto meninggal dan empat lainnya masih hilang.
Wahyuni menceritakan bahwa Alfianto adalah seorang pekerja keras. Meskipun bukan dari keluarga nelayan, ia memilih profesi tersebut karena pengaruh lingkungan sekitarnya. "Alfianto itu orangnya pekerja keras. Bapak-Ibunya tidak ada yang jadi nelayan, tapi dia memilih jalan itu karena memang di lingkungannya banyak yang jadi nelayan," kata Wahyuni saat ditemui dikediamannya, Kelurahan paoman, Indramayu, Senin (2/3/2026).
Alfianto dibesarkan di Kelurahan Paoman, Indramayu. Orang tuanya, Wahyuni dan Tumino (60), adalah perantau dari Solo. Wahyuni sehari-hari berjualan jamu, sementara Tumino menjajakan bakso keliling.
Meskipun tak memiliki darah nelayan, laut menjadi bagian penting dalam hidup Alfianto. "Iya, lah, orang didaratnya cuma sebulan. Dia bisa satu tahun di laut. Katanya masih enak di laut, " kata Wahyuni.
Alfianto bahkan pernah bekerja sebagai nelayan di Taiwan. Sebelum berangkat, ia sempat belajar di sekolah nelayan, SMK Negeri 2 Indramayu yang berada di Desa Pabean Udik. Pengalaman selama tiga tahun di perairan Taiwan dan Indonesia membuatnya semakin berpengalaman.
Inseden di perairan Indramayu bukanlah kecelakaan pertama yang dialami Alfianto. Sebelunya, ia pernah mengalami dua kejadian serupa.
Pertama, kakinya pernah tersangkut jaring kapal melaju. Ia terseret lebih dari 10 meter di dalam air laut, namun berhasil selamat. Kedua, kapal yang ditumpanginya terbalik di perairan Papua. Seluruh awak ABK kapal berhasil menyelamatkan diri.
Dalam peristiwa terbaru, dua awak kapal meninggal dunia, Jupri Priyanto alias kempot (35), nahkoda asal Desa Pabean Udik, dan Wandi (39), warga Desa Karangsong. Keduanya sempat berpegangan pada tali tongkang sebelum akhirnya terlepas. Jenazah mereka ditemukan oleh KM Cahaya Langgeng dan dibawa ke Pelabuhan Karangsing.
Sementara itu, empat nelayan lainnya masih hilang: Ari Wibowo (23) warga Keluarahan Paoman, Asep Agustina 924) warga Desa Penganjang, Mas'ud (38) warga Desa Kelurahan Paoman, dan Ono (50) warga Desa Tambak.
Mimpi Sebelum Tragedi
Sebelum kejadian nahas itu, Wahyuni mengaku sempat mimpi buruk, "Saya mimpi anak saya minta tolong, :'Ibu tolong, katanya karena tenggelam di lumpur, kelihatan tangannya saja. Terus saya tolongin dan saya serahkan ke bapaknya untuk dibersihkan, "katanya.
Wahyuni terbangun sekitar pukul 03.30 WIB dan merasa gelisah. "saya makan sambil diam saja. Bingung, akan kejadian apa yang menimpa anak saya, "katanya. Kegelisahannya terjawab beberapa waktu kemudian.
Di tengah duka, Wahyuni tetap bersyukur anaknya selamat, Ia berharap, kejadian ini menjadi pelajaran bagi Alfianto, "Alhamdulillah anak saya masih diberi umur panjang. Semoga ini bisa menjadi pelajaran agar dia lebih baik, "harap Wahyuni.
Alfianto berangkat melaut untuk mencari biaya lebaran, termasuk zakat fitrah. ia berencana hanya beberapa hari saja di laut kali ini.
Bagi Wahyuni, laut telah berkali-kali hampir merenggut nyawa anaknya. Namun, Takdir masih memberinya kesempatan untuk memeluk Alfianto kembali.
Sumber Referensi : detik.com
Komentar
Posting Komentar